midnight

Jam enam pagi, gue sampe di sekolah dianter sama nyokap. Di perjalanan dari rumah ke sekolah yang makan waktu satu jam, gue dengerin lagu-lagu rock. Lagu-lagu mellow yang punya lirik tajem bikin gue nangis saat itu. Dari seberang jalan sampe pintu gerbang sekolah ada satpam yang selalu nyapa gue. Gue jalan ke ruangan luas yang dinamain plaza di mana banyak anak-anak sekolah yang lagi nongkrong nunggu bel. Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian gue, ada lima orang cowok yang manggil-manggil nama gue. Mereka berdiri di lapangan konblok.

“Neu! Sini!” seru salah satunya.

Gue mengerutkan dahi. Perasaan nggak pernah ada yang manggil-manggil gue. Seharusnya jalan cerita biasanya, gue langsung naik tangga terus masuk kelas terus nulis sesuatu di buku sakti gue. Nggak ada lima orang cowok berpakaian seragam SMA yang aneh, malah semuanya pada berambut gondrong dan diwarnain.

Akhirnya gua turutin mau mereka. Gue samperin mereka. “Kenapa? Lo nggak seharusnya ada di sini.”

“Kita sebenarnya ada, kok,” kata salah seorang yang bertampang paling imut. “Cuma lo aja yang nggak pernah nyadar.”

“Hah?” gue nggak ngerti sama omongannya.

Terus salah seorang dari mereka yang tubuhnya paling pendek langsung narik tangan gue. “Masuk yuk, udah mau bel.”

Ajaib. Beneran. Bel sekolah gue yang nadanya kayak lagu itu berbunyi. Bersama mereka berlima, gue naik tangga deket ruang kelas. Terus kita semua masuk di kelas sosiologi yang letaknya paling pojok. Kita berenam duduk di bangku paling belakang dan suasana kelas waktu itu udah rame.

“Tunggu,” sela gue. “Pelajaran pertama gue seharusnya matematika.”

Salah seorang cowok yang bertampang paling ganteng itu ngomong. “Nggak, seharusnya sosiologi.”

Gue mulai nggak ngerti, tapi gue ikutin apa mau mereka. Toh emang gue nggak terlalu semangat ngikutin apa-apa hari ini. Itung-itung pengalaman sehari deh, mungkin nanti gue bakal mampir ke kelas matematika bentar buat absen muka. Ato nggak bablas ke perpustakaan, tempat terasik di sekolah. Di sana gue biasa baca buku dan main internet, dua kegiatan yang gue sukai.

Baru aja pelajaran jalan beberapa menit, kelima orang itu ngajak gue keluar. Ternyata mereka ngajak gue ke dalem masjid. Di sini suasananya nggak terlalu rame. Kita berenam duduk di lantai paling atas, ngeliat langit biru yang masih segar. “Sebenarnya mau kalian apa, sih? Gue mau sekolah nih.”

Cowok yang bertampang paling dewasa ngomong. “Beneran lo mau sekolah? Bukannya selama ini lo selalu kesel kalo pergi ke sini?”

“Yah…” gue mulai kehabisan kata-kata. “Tapi nggak segitunya juga, gue masih mau usaha kok.”

“Yang bener?” tanya cowok bertampang imut.

Gue jadi rada sangsi sama perkataan gue gara-gara tampangnya itu. Nyolot sih, tapi imut. “Yap, gue berusaha.”

“Eh, liat deh di sana,” kata cowok bertampang paling judes tapi menurut gue justru paling ganteng.

Mendadak, BLAST! Gue dan kelima cowok itu udah ada di lapangan rumput yang luas. Di tengah-tengah sekolah. Gue terpana dengan pemandangan yang berbeda dari biasanya. Kemudian mereka berlima pada main band. Iyah. Band! Gue bahkan nggak tahu di mana mereka dapet seperangkat alat drum, gitar, bas, bahkan microphone! Hari ini jadi kerasa spesial.

Kita pun ketawa bareng-bareng. Anehnya, nggak ada yang ngeliatin kita berenam. Seolah kegiatan di sekolah berjalan seperti biasa. Tapi nggak apa-apa. Gue juga jarang ketawa lepas begini, bahkan gue teriak-teriak bareng si cowok bertampang ganteng yang jadi vokalisnya.

Akhirnya, karena kelelahan, kita tidur-tiduran di atas rumput. Mata gue ngeliat ke arah langit biru dan awannya. Si cowok bertampang judes itu pun menatap ke arah gue. “Gimana? Seru, ‘kan?”

“Banget,” jawab gue.

“Sekolah seharusnya begini. Jadi tempat yang paling membahagiakan dan paling nikmat buat lo,” katanya lagi. “Lo masih SMA. Beban lo seharusnya nggak seberat orang-orang kerja. Jiwa lo masih labil, masih egois, masih mikir apapun yang lo putusin itu tepat.”

Bibir gue tersenyum. “Wow… perlu gue catet nih.”

“Tapi, kalo gue boleh kasih saran, apapun keputusan lo itulah yang paling tepat. Karena gue yakin jauh di dalem hati lo, lo udah tahu siapa diri lo sesungguhnya. Dan kalopun lo ngerasa belom, paling nggak lo lagi berjalan untuk tahu siapa diri lo. Jangan pernah ngerubah keputusan lo hanya karena seseorang atau bahkan banyak orang sekalipun. Ini semua lo yang jalanin, lo yang lakuin. Mereka nggak akan sesedih sewaktu lo dapet masalah. Yang paling menderita dan tau penderitaan yang cuma lo doang.”

Gue mengangguk. Bener banget. “Kalo… kondisinya kayak sekarang?”

Cowok bertampang judes itu memperlihatkan senyumnya. Gila, cakep banget. “Jalanin aja. Lo pasti udah mutusin sesuatu, ‘kan?”

Gue mengangguk.

“Jalanin apa yang lo merasa itu benar, selama nggak merugikan diri lo sendiri,” katanya. “Jangan ragu buat ekspresiin diri lo. Jangan pernah nyerah. Percaya sama diri lo sendiri.”

Dan…. BLAST! Mereka berlima ilang. Tinggal gue di kelas, duduk di depan meja. Buku sakti gue terbentang di depan gue. Hm…. cuma mimpi ato?

Continue Reading...

After the celebration

Masih hari yang sama~

Gue baru aja pulang dari Pura di Cijantung, kebetulan di sana lagi odalan. Gue ke sana bareng keluarga (minus bokap yang lagi ngerayain Galungan di Bali), plus sama sepupu-sepupu gue. Pura-nya bagus loh, luas, bersih, tempat buat jajanan juga disediain khusus dan bener-bener bersih. Di sana ada tempat jualan obat-obatan herbal, bakpao, nasi Bali (isinya lauk-pauk, sayur-sayuran, dll), buku-buku agama, sampe kaos dan stiker bergambar simbol agama juga ada. Biasanya kalo kayak begini gue beli buku, tapi berhubung ada buku Supernatural di rumah yang lagi menanti untuk gue buka (kalo gue lagi ada ide nulis cerita – dan harus diselesaikan – gue ngga baca novel dulu biar konsen), jadinya gue ngga beli.

Abis sembahyang, gue ngobrol-ngobrol sama sepupu gue yang pernah menjalankan sebuah diet. Katanya sih biar sehat. Dia bilang, porsi makannya lebih didikitin dan lebih teratur. Jam 7, 10, 13, dan terakhir sebelum jam 17 adalah jam-jam makan. Kalo ngemil, dia milih kacang-kacangan yang kandungan proteinnya tinggi. Kalo mau minum kopi, sebelumnya harus minum air dulu biar nggak “nyangkut” di dalem tubuh. Katanya sih gitu. Mulai besok gue mau nyoba ah~

PS: Jumat ada makan-makan di Hanamasa PIM neee… semoga lancar dan sukses yah~

Continue Reading...

must buy

Aaah… happy Galungan day~!

This morning I woke up with scent of dupa (incense stick) and sound of invocation on the radio tape. My aunt turned on that.

Biasanya, kalo keluarga gue ngajak pergi ke mol, gue pake kaos+jins+sendal/crocs/sepatu. Kayak cowok ya? Gue liat cewe-cewe di mol pada pake rok pendek, legging, jegging, rompi, dress, blah blah. Dalam memilih baju, gue menganggap kenyamanan itu nomer satu. Apa gue seneng makenya, ada bagian-bagian yang terlalu ketat ato nggak, dsb. Dan yang memang nyaman itu ya kaos sama jins. Lagipula di Asia masih rendah presentasi orang yang “nerima” kalo orang gendut itu bisa make apa aja. Yang ada orang gendut diketawain kalo make baju yang aneh-aneh, disangkanya orang gila lepas. Gue pernah liat sekumpulan abegeh yang ngetawain toko baju khusus orang gendut.

Ada yang salah? Apa seharusnya orang gendut itu nggak pake baju jadi nggak perlu diketawain ya? Menurut gue, nggak apa-apa kalo gendut, daripada kurus tapi isinya plastik semua. Mending gendut, nyaman, dan berusaha untuk jaga kesehatan. Entah dengan olahraga, makan buah, dll. Ada loh orang yang udah olahraga mati-matian sampe pingsan tapi tetep aja badannya segitu-segitu doang. Kayak gue misalnya. Lari gue masih bisa, sit up gue masih bisa, tapi badan gue segini-segini aja. Ya mungkin emang dikasihnya segini.

Ah… sebenarnya gue mau ngasi liat foto seorang artis Korea yang menurut gue gayanya asik banget. Iyah, dia cowo. Tapi gue rada-rada tomboy kok.

Dan yang satu lagi adalah yang ini:

Yang harus gue beli:

- Rompi warna putih…. bisa dipadu dengan kaos warna lainnya kan ya?

- Sendal…

Continue Reading...

vacation… vacation…

Wow, July 4th… happy birthday to Gackt (my favorite J-Rock singer with such a bishounen face) and Jin Akanishi (ex-member of KAT-TUN and he acted so well on Yukan Club).

And today I just sat on my bed, looked at my laptop, and tadaaah… connected with internet. Life’s good until I fell asleep in front of my laptop. From a book that I’ve read, she named it “The Art of Doing Nothing”. I need to go to somewhere else, please… last vacation I went to Bali and that’s the best vacation I’ve ever experienced.

Ah, I will celebrate “Galungan” on wednesday. You know, day when “the kindness” defeats “the badness”, maybe something like you against your own anger and the other bad feelings on yourself. That day, my family and I will pray in a Pura (holly place for Hindus). My father will go to Bali tomorrow. The celebration of Galungan in Bali is very different from here, Jakarta. It’s very festive and there’s a lot of rituals that I can’t see here.  Arrrgh… I want to go with him but it’s too late to order the ticket.

When I still attended religious school every Sunday, my teacher taught me everything about Galungan day. I made things named “Sajen” (I’m good enough to made sajen named Canang Sari), “klakat”, “penjor”, etc. All of that things is used for celebrating Galungan day.

Wow. When I look at the rituals, I think it’s complicated. Yah, mabye I’ll explain it later. Well, enough for today. Hope I’d get better vacation tomorrow…

Continue Reading...

PRJ

Ehm. Before it’s too late…

Happy birthday to my will-be sister in law!! \(^O^)/ oh, btw, I never use emoticon like this. My beloved taught me.

SKIP SKIP SKIP… for today’s story

Kemarin gue ke PRJ bareng kaka gue dan sepupu gue. Biasalah, kalo ke PRJ itu capek jalan en keringetan. Kalo ke sana paling beli chiki, snek, kopi instan, bakpao, dll. Tadinya mau ke rumah hantu Indonesia (entah kenapa, sejak ikut yang di Summarecon Serpong dengan tema Rumah Sakit apa gitu, gue jadi rada fanatik kalo ngeliat rumah hantu), tapi ngantrenya panjang… dan nggak mungkin gue ke sana sendiri karena tiketnya khusus buat dua orang. Rugi bandar kalo sendirian, meski gue sah-sah aja.

Yah. Gue emang penggemar horor sih, tapi (untungnya, jangan sampe) gue nggak punya sixth sense. Kalo ada yang nggak beres, paling gue merinding doang. Nggak pernah liat sih dan nggak kepingin liat. Untuk film horor terseram yang pernah gue tonton, gue tunjuk film-filmnya almh. Suzanna. Gila abis, udah make-upnya horor banget, gue jadi seneng nontonnya.

Dan, kita semua tepar pas sampe di rumah. Cape.

Oiya, mungkin gue akan coba yang di Summarecon Serpong dengan tema Ruang 13. Lagi nyari orang buat nemenin nih. Sejauh ini sih belom ada, temen gue nggak bisa semua katanya. Huff… sayang sekali.

Continue Reading...
  • The Journey

    The Journey It's about my life. No matter what kind of problem, I have to keep moving. And the time will always keep moving.

  • Categories
  • archives